Pages

Subscribe:

W E L C O M E

W  E  L  C  O  M  E

Labels

Dunia Kampus

Selasa, 10 Januari 2012

Asas-Asas dalam Penulisan Karya Ilmiah

BAB I
                                                                   PENDAHULUAN                      

1.1     Latar Belakang Masalah
Memiliki kemampuan menulis karya ilmiah dinilai sangat penting bagi seorang mahasiswa. Selain itu, kemampuan ini juga sangat dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkecimpung dengan dunia akademik dan industri, seperti mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan penemu. Kegiatan-kegiatan ilmiah atau akademis yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tersebut di atas, dilaporkan secara tertulis, terstruktur, dan tentu memiliki ciri bisa dipertanggungjawabkan. Kali ini penulis ingin berbagi informasi mengenai asas-asas dalam penulisan karya ilmiah, serta teknik menentukan tema dan judul karangan yang merupakan tahap-tahap penyusunan karya ilmiah.
Menyusun karya ilmiah pada dasarnya cukup rumit, namun, jika ditekuni dengan serius dan sepenuh hati, menyusun atau menulis karya ilmiah bisa menjadi sebuah aktifitas yang sangat menyenangkan. Menulis karya ilmiah melibatkan tiga unsur penting antara lain bahan bacaan, pola berfikir dan penguasaan bahasa tulis. Menulis laporan penelitian karya ilmiah acap kali menjadi masalah bagi seseorang yang sudah menyelesaikan proposal penelitian ilmiah, atau bahkan sudah melaksanakan penelitian. Berbagai alasan klise seperti kesibukan, sedikitnya waktu, tidak adanya biaya sering menjadi kambing hitam atas ketidakberdayaan kita menyelesaikan laporan hasil penelitian karya ilmiah. Walhasil, setelah berbulan-bulan penelitian ilmiah dilaksanakan laporan hasilnya belum juga selesai. Banyak kasus, mahasiswa yang sudah menyelesaikan Ujian Negara masih terkatung-katung karena belum menyelesaikan skripsi atau tesisnya.
Keterampilan menulis memang tidak bisa lahir dengan serta merta. Diperlukan kolaborasi antara talenta manusia dengan  wawasan kebahasaan. Talenta melahirkan semangat menulis, dan wawasan kebahasaan  menjadi bekal untuk terampil menulis. Talenta saja tidak cukup, sebab sebagai sebuah skill, seperti halnya naik sepeda, kegiatan menulis perlu dilatih atau diasah. Semakin sering berlatih, maka kemampuan menulis akan semakin baik. Untuk sekedar naik sepeda, hanya diperlukan waktu sekitar satu bulan, dan untuk menjadi seorang atlet balap sepeda, diperlukan latihan bertahun-tahun.Sama halnya dengan belajar menulis. Untuk sekedar bisa menulis, dibutuhkan waktu beberapa bulan saja, tetapi untuk menjadi  penulis yang handal, yang tulisan-tulisannya ditunggu oleh para pembaca, tentu dibutuhkan waktu latihan yang lebih lama lagi.
Seorang yang hendak melakukan kegiatan menulis setidaknya harus menguasai empat keterampilan berbahasa. Empat keterampilan berbahasa itu ialah mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Untuk sekedar mendengar atau menyimak, asalkan telinga kita tidak bermasalah, siapapun bisa melakukannya. Namun, untuk menjadi pendengar yang mampu memahami pembicaraan diperlukan kemampuan mendengar yang baik, atau menguasai teknik mendengar.  Sama halnya dalam kegiatan berbicara, membaca dan menulis. Untuk menjadi pembicara, pembaca dan penulis yang baik, maka ia harus menguasai teknik-tekniknya.
1.2    Perumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka beberapa rumusan masalah dapat diuraikan sebagai berikut.
a.         Apa asas-asas dalam menulis karangan ilmiah?
b.        Bagaimana cara menentukan tema karangan ilmiah?
c.         Bagaimana cara menentukan judul karangan ilmiah?
1.3    Tujuan Masalah
a.       Untuk mengetahui asas-asas dalam penulisan karangan ilmiah
b.      Untuk mengetahui cara menentukan tema karangan ilmiah
c.       Untuk mengetahui cara menentukan judul karangan ilmiah
1.4    Manfaat Masalah
a.         Penulis akan terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber, mengambil sarinya, dan mengembangkannya ke tingkat pemikiran yang lebih matang.
b.        Penulis akan berkenalan dengan kegiatan perpustakaan, seperti mencari bahan bacaan dalam catalog pengarang atau catalog judul buku.
c.         Penulis akan lebih mengetahui teknik penulisan karya ilmiah serta memperoleh kepuasan intelektual.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Asas-asas dalam penulisan karangan ilmiah
Kejelasan (clarity)
Karangan ilmiah harus konkret dan jelas. Kejelasan itu tidak saja berarti mudah dipahami, mudah dibaca, tetapi juga harus tidak memberi ruang untuk disalahtafsirkan, tidak boleh bersifat samar-samar, tidak boleh kabur, tidak boleh ada di wilayah abu-abu. (Bahasa Jawa: keduh gambling wijang-wijang).
Kejelasan di dalam karangan ilmiah itu ditopang oleh hal-hal berikiut: (1) pemakaian bentuk, kebahasaan yang lebih dikenal daripada bentuk kebahasaan yang masih harus dicari-cari dulu maknannya, bahkan oleh penulisnya. (2) pemakaian kata-kata yang pendek, ringkas, tajam, lugas, daripada kata-kata yang berbelit, yang panjang, yang rancu, yang boros. (3) pemakaian kata-kata dalam bahasa sendiri daripada kata-kata dalam bahasa asing.
Kata-kata asing dapat digunakan hanya kalau memang istilah itu sangat teknis sifatnya sehingga tidak (belum) ada istilah garing kata-kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Jadi, jangan sampai verbalistis.
Ketepatan (accuracy)
Karangan ilmiah menjunjung tinggi keakuratan. Hasil penelitian ilmiah dan cara penyajian hasil penelitian itu haruslah tepat/akurat. Supaya karangan ilmiah sungguh-sungguh akurat, penulis/peneliti harus sangat cermat, sangat teliti, tidak boleh sembrono, atau main-main dengan ilmu.
Dalam cara penyampaiannya, di dalam karangan ilmiah itu harus terwadahi butir-butir gagasan dengan kecocokan sepenuhnya seperti yang dimaksud oleh peneliti/penulisnya. Kualifikasi demikian itulah yang dimaksud dengan istilah efektif-sangkil.
Keringkasan (brevity)
Karangan ilmiah haruslah ringkas. Ringkas tidak sama dengan pendek. Karangan yang tebalnya 500 halaman dapat dikatakan ringkas sejauh di dalamnya tidak terdapat bentuk-bentuk kebahasaan yang bertele-tele, kalimat-kalimat yang bertumpukan (running-on sentences), dan sarat dengan kemubaziran dan kerancuan. Jadi, karangan ilmiah itu tidak boleh menghamburkan kata-kata, tidak boleh mengulang-ulang ide yang telah diungkapkan, dan tidak berpura-pura dala mengungkapkan maksud atau gagasan. Karangan ilmiah harus dibangun dari ide yang kaya dengan bahasa yang hemat dan sederhana. Jadi bukan sebaliknya, ide yang miskin namun dengan bahasa yang berbunga-bunga.
Karangan ilmiah harus ditulis dengan hati dan diteliti kembali, dibenahi kembali, diedit kembali dengan pikiran. Jadi, peganglah prinsip ‘writing with heart, editing with brain’ da dalam praktik penulis karya ilmiah.
2.2  Tema Karangan Ilmiah
Tema adalah pokok persoalan, permasalahan, atau pokok pembicaraan yang mendasari suatu karangan. Tema sangat terpengaruh terhadap wawasan penulis. Semakin banyak penulis membiasakan membaca buku, semakin banyak aktifitas menulis akan memperlancar penulis memperoleh tema.
Tema tersedia dengan melimpah di sekitar kita, seperti 1) persoalan kemasyarakatan, 2) perbankan, 3) akutansi, 4) kedokteran, 5) asuransi, 6) koperasi, 7) teknik, 8) industry, 9) pertanian, 10) hukum, 11) perhotelan, 12) pariwisata, dan 13) teknik lingkungan.
Dalam hubungan dengan pemilihan tema yang akan diangkat ke dalam karangan ilmiah, Keraf (1980 : 111) mengatakan bahwa penyusun karangan ilmiah lebih baik menulis sesuatu yang menarik perhatian dengan pokok persoalan yang benar-benar diketahui daripada menulis pokok-pokok yang tidak menarik atau tidak diketahuinya sama sekali. Sehubungan dengan pernyataan itu, hal-hal berikut patut dipertimbangkan dengan seksama oleh penyusun karangan ilmiah.
1)        Tema yang dipilih harus berada disekitar kita Anda, baik di sekitar pengalaman Anda maupun disekitar pengetahuan Anda. Hindarilah tema yang jauh dari diri Anda sendiri ketika menggarapnya.
2)        Tema yang dipilih haruslah tema yang paling menarik perhatian Anda.
3)        Tema yang dipilih terpusat pada suatu segi yang lingkupnya sempit dan terbatas. Hindarilah pokok masalah yang menyeret Anda kepada pengumpulan informasi yang beraneka ragam.
4)        Tema  yang dipilih memiliki data dan fakta yang objektif, hindarilah tema yang bersifat subjektif, seperti kesenangan atau angan-angan Anda.
5)        Tema yang dipilih harus Anda ketahui prinsip-prinsp ilmiahnya - -walaupun serba sedikit. Artinya, tema yang dipilih itu janganlah terlalu baru bagi Anda.
6)        Tema yang dipilih harus memiliki sumber acuan, memiliki bhan kepustakaan yang akan memberikan informasi tentang pokok masalah yang akan ditulis. Sumber kepustakaan dapat berupa buku, majalah, surat kabar, brosur, surat keputusan, atau undang-undang.
Namun, bagi pemula perlu memperhatikan beberapa hal penting agar tema yang diangkat mudah dikembangkan. diantaranya :
a.         Jangan mengambil tema yang bahasannya terlalu luas.
b.         Pilih tema yang kita sukai dan kita yakini dapat kita kembangkan.
c.         Pilih tema yang sumber atau bahan-bahannya dapat dengan mudah kita peroleh.
Sebagai ide sentral, pasti sebuah tema karangan akan mengontrol keseluruhan isi karangan. Keseluruhan konstruksi karangan pasti akan dapat dikembalikan kepada ide sentral itu. Bagi seorang penulis, tema karangan akan dapat  menuntun dirinya agar dapat sampai pada akhir tulisannya secara tuntas.
Bagi seorang pembaca, tema karangan akan berfungsi sebagai penuntun untuk dapat memahami keseluruhan tulisan atau karangan itu secara tepat. Dengan membaca keseluruhan tulisan atau karangan secara cermat, seorang pembaca akan dapat menemukan tema karangan atau jiwa dari karangan itu.
Selanjutnya, tema karangan yang baik bagi penulis adalah sebagai berikut : sesuai dengan bidang keahlian penulis, sesuai dengan bidang studi yang didalami penulis, sesuai dengan pengalaman penulis: penelitian, pekerjaan, keterlibatan; sesuai dengan bidang kerja atau profesi penulis; sesuai dengan kompetensi penulis; sesuai dengan minat penulis.
Adapun bagi pembaca, tema yang dianggap menarik adalah sebagai berikut: sesuai dengan tuntutan pembaca dalam mencapai target tertentu; sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditekuni pembaca; sesuai dengan bidang pekerjaan dan profesi yang digeluti pembaca; memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembaca.
Satu hal lagi yang harus dicatat berkaitan dengan tema adalah bahwa bila anda hendak mengkaji tema tertentu untuk dituliskan dalam sebuah karya tulis, pastikan bahwa tema itu memiliki data yang melimpah. Data yang melimpah akan memungkinkan sebuah karya, khususnya karya ilmiah, untuk diolah dan diselesaikan secara tuntas oleh seorang penulis. Kebanyakan penulis tidak dapat menyelesaikan tugas penulisannya dengan baik karena data yang didapatkannya dari penelitian tidak cukup memadai.
Dengan demikian dapat dikatakan pula bahwa tema karangan itu ibarat kacamata kuda yang akan menjamin sang penulis itu berjalan lurus munuju tujuan dan cita-cita yang diharapkan. Pembahasan atau pemaparan di dalam sebuah karangan atau tulisan tidak menerima uraian yang menyimpang dari tema karangan yang berjati diri sebagai jiwa karangan itu.
2.3  Judul Karangan Ilmiah
Judul karya almiah hendaklah singkat dan spesifik, tetapi cukup jelas untuk member gambaran mengenai keseluruhan isi naskah yang ditulis. Judul karya ilmiah harus mengandung kata kunci yang padat makna  agar suatu judul dapat dengan mudah disimak untuk memahami keseluruhan isi atau kandungan suatu karya ilmiah atau naskah. Jika karya Ilmiah adalah artikel hasil penelitian, maka judulnya tidak mutlak harus sama dengan judul lengkap suatu penelitian. Diharapkan panjang judul tidak lebih dari sepuluh kata untuk naskah yang berbahasa inggris dan tidak lebih dari 12 kata untuk naskah yang berbahasa Indonesia, dan paling banyak terdiri atas 90 ketukan mesin tik. Jika jumlah kata yang terlalu banyak tidak dapat dihindari, pisahkanlah sebagian menjadi anak judul untuk memudahkan pemahaman secara cepat.
Untuk dapat mematuhi batas jumlah kata yang dipakai, sekali lagi hrus dipilih kata dan istiah yang padat makna, kata kunci khas dan sejauh mungkin mampu mencirikan keseluruhan isi naskah. Kekhususan ini ditekankan karena dalam daftar judul atau daftar isi majalah, judul berdiri sendiri dan terlepas dari abstrak dan teks lengkapnya. Dengan demikian, judul sangat menetukan apakah suatu naskah terpilih untuk dibaca atau ditelaah lebih lanjut atau tiidak.
Dalam menyusun judul hindari menggunakan kata-kat klise seperti penelitian pendahuluan, studi perbandingan, penelaah terhadap, pengaruh pemberian, serta pemakaian kata kerja pada awal judul. Judul hendaknya tidak mengandung singkatan atau akronim kecuali jika diyakini bahwa bentuk tersebut pasti dikenal baik oleh khalayak pembaca jurnal yangn bersangkutan. Begitu pula nama latin makhluk yang umum dan tidak diragukan identitasnya (seperti kedelai, kopi, kelapa sawit, jagung) tidak perlu dicantumkan dalam judul. Tindakan ini diambil untuk tidak menimbulkan kesan bahwa pencantuman nama ilmiah itu seakan-akan menambah bobot ilmiah tulisan yang bermutu rendah.
Akan tetapi, harus dicatat baik-baik bahwa perumusan judul yang baik akan dapat dilakukan oleh seorang penulis atau pengarang setelah dia melewati beberapa tahapan perumusan, bahkan setelah tahapan pengendapan tertentu.  Berikut penjelasan lengkap mengenai syarat-syarat judul karangan ilmiah antara lain :
(1)           Tepat, judul karangan skripsi dan tesis dan tentu saja uga untuk karangan-karangan  ilmiah lainnya, haruslah tepat terju kepada sasaran dan isi karangan. Artinya segala isi yang terkandung di dalam karangan itu dapat terlihat dari judul tersebut. Dalam hal ini berlaku hukum bahwa semakin luas lingkungan yang termasuk kedalam suatu judul, semakin sedikit isi keterangan yang diperlukan. Untuk menjelaskan hukum ini perhatikanlah contoh berikut ini. Misalnya sebuah judul berbunyi: “Suatu tinjauan tentang hubungan sosial”. Di dalam pengertian “hubungan sosial” itu akan terdapat seluruh aspek hubungan sosial di tempat manapun dan di waktu kapanpun, baik hubungan sosial dalam masyarakat modern maupun masyarakat primitive. Lingkungan yang termasuk ke dalam judul itu dapat dipersembit dengan menambah keterangan yang lebih luas. Misalnnya judul diatas kita tambah keterangannya sehingga menjadi: “ Suatu tinjauan tentang hubungan sosial di masyarakat primitive”. Judul pertama karena sedikitnya keterangan yang dicantumkan, melingkupi ligkungan yang lebih luas dari yang kedua. Dan judul kedua melingkupi lingkungan yang lebih sempit daripada yang pertama, karena penambahan keteranga. Dan demikian  pula kita dapat mempersempit lagi judul yang kedua dengan menambah keterangan. Misalnya menjadi: “Suatu tinjauan tentang hubungan sosial di masyarakat primitive di daerah polinesia”. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak keterangan di dalam suatu judul, semakin sempit lingkungan yang tercakup di dalam tersebut.
(2)           Ekonomis. Judul sebaiknya sependek mungkin tanpa mengurangi arti atau isi atau luas lingkungan yang tercakup didalam karangan. Karena niai judul karangan, demikian pula nilai karangan sebagai keseluruhan, tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya judul atau tebal-tipisnya karangan. Ini berarti bahwa setiap kata dan tanda baca yang terdapat di dalam judul karangan harus terpilih dan fungsionil. Meskipun demikian perlu diketahui pula hukum yang telah dijelaskan pada (1) di atas. Jika judul diperpendek tanpa alasan, maka kemungkinan besar lingkungan yang tercakup di dalam judul itu akan meluas, sehingga tidak menampakkan batas-batas masalah yang akan dikemukakan pengarang, Jika belum terbiasa dengan judul pendek, pertama-tama dapat disusun judul yang panjang. Setelah itu kata-kata atau kalimat-kalimat yang tidak perlu dapat dibuang. Kata yang sudah jelas tidak perlu diperjelas lagi.
(3)           Langsung. Judul karangan tidak peru berbelit-belit dan dibuat-buat supaya tampak ilmiah. Judul yang pura-pura ilmiah dapat memberikan kesan bahwa pengarang itu sebenarnya tidak begitu menguasai materi karangannya. Sudah menjadi sifat yang lumrah, untuk menutupi kekurangannya, oranng akan berbuat atau berkata yang berlebih-lebihan. Judul karangan tidaklah begitu baik jika memberikan kesan kesombongan pengarangnya. Judul yang sentimental kerapkali tidak menolong pengarangn untuk mencapai tujuan langsung dari karangannya itu. Karena itu sebaiknya langsung kepada yang dimaksud oleh karangan itu. Meskipun dianjurkan untuk membuat judul yang bersifat langsung, ini tidak berarti bahwa karangan itu tidak usah memperhatikan etika. Dalam hal ini pengarah dapat memilih judul yang sifatnya konotatif (“menyindir”) atau non-konotatif (“terus terang”). Pengarang dapat memilih pengertian yang konotatif, misalnya: “Suatu analisa ekonomis tentang Negara-negara yang sedang berkembang”. Atau dapat pula merubahnya menjadi judul yang non-konotatif sehingga menjadi: “Suatu analisa ekonomis tentang Negara-negara yang terbelakang”. Kedua judul itu pada prinsipnya sama, tetapi judul pertama lebih halus dan lebih “empuk” terdengar. Demikian pula kita dapat merubah pengertian “salah” dengan “keliru” atau “hidup mewah” dengan “hidup tidak sederhana”.
(4)           Jelas. Bahasa, kalimat dan kata-kata ynag digunakan di dalam judul karangan hendaknya bahasa, kalimat dan kata-kata yag dapat dimengerti dan hendaknya dapat dihindari kalimat-kalimat atau kata-kata yang kabur atau ambivalen. Istilah-istilah yang terdaat didalam judul itu haruslah tepat dan dapat dipertanggungjawabkan oleh pengarang. Meskipun ekonomis, judul itu tetap harus jelas. Sesuatu yang jelas tidak selalu berhubungan dengan keterangan yang panjang lebar.
(5)           Sederhana. Judul karangan pada dasarnya tidak perlu sofistikatif atau menggunakan kalimat atau kata-kata yang hebat, demagogus, berapi-api, brbau kampanye atau iklan, ata otoritatif. Karangan ilmiah sebenarnya tidak bermaksud untuk memaksakan pendapat pengarang kepada pembacanya. Tetapi sebaiknya judul itupun tidak perlu dirangkai dengan kata-kata syahdu dan mengusap-ngusap, sehingga dapat memberikan pengertian yang samar-samar atau bertentangan dengan maksud karangan. Meskipun demikian harus dihindarkan pula kalimat-kalimat atau kata-kata yang naïf. Biasanya semakin banyak pengalaman dalam karang mengarang, semakin pandai dalam menyederhanakan kata-kata atau kalimat-kalimat. Pada umumnya menyederhanakan suatu kalimat meminta pengerhan pikiran yang cukup besar. Judul yang ilmiah tentu  saja tidak sama dengan judul yang pura-pura lmiah.
(6)           Baru. Judul, seperti juga setiap kalimat yang berada didalam karangan, termasuk isi karangan, sebaiknya dapat menghindarkan diri dari duplikasi dan peniruan terhadap karangan-karangan yang sudah ada, meskipun tidak perlu mengherankan atau aneh. Bukan saja judul itu harus menarik, tetapi judul yang baru harus menjadi usaha pengarang. Memang perlu diakui, bahwa di dalam dunia ilmu pengetahuan, pikiran yang orizinil itu sukar didapat, tetapi peninjauan yang baru terhadap sesuatu yang obyek karangan adalah mungkin dikerjakan setiap rang.
(7)           Logis. Makna yang terdapat di dalam isi judul karangan haruslah dapat dipertahankan dengan argumentasi dan dari sudut ilmu matik adalah benar. Artinya judul karangan itu benar dari segi ilmiah, dan beralasan menurut logika.
(8)           Utuh. Keseluruhan judul, sebaiknya menjadi suatu kesatuan yang padu, utuh, korelatif dan integrative. Syarat inipun berlaku pula untuk hubungan antar judul dan isi karangan. Nilai sebuah kata di dalam sebuah kalimat yang terdiri dari beberapa kata, tidak berdiri sendiri, tetapi selalu di dalam hubungan (konteks) dengan kata-kata lainnya sebagai suatu keseluruhan.
(9)           Gramatika. Judul hendaknya mengikuti tata-bahasa yang benar. Struktur kalimat harus dipelihara menurut tata-bahasa yang sebenarnya. Biasanya untuk bisa terhindar dari kesalahan tata-bahasa, judul karangan tersebut dibin pendek. Anak kalimat yang terlampau banyak lebih banyak memberikan kemungkinan untuk salah.
Judul sebaiknya dapat memenuhi syarat-syarat diatas, karena judul itu seperti paras seseorang yang dapat memberikan kesan tertentu bagi mereka yang untuk pertama kalinya memandangnnya. Bukan saja harus memenuhi syarat isi judul tetapi juga bentuk judul harus mendapat perhatian pengarang.
Bentuk judul karangan. Isi sebuah judul karangan terikat oleh bentuk judul karangan tersebut. Krena itu maka syarat-syarat isi judul perlu dilengkapi oleh syarat-syarat teknis penyusunan judul karangan. Di bawah ini akan dicantumkan beberapa syarat teknis yang perlu mendapat perhatian pengarang, meskipun syarat teknis yang perlu diperhatikan pengarang ialah:
(1)   Judul karangan ditulis dua kali:
(a)    Judul yag dicantumkan pada kulit karangan.
(b)   Judul yang dicantumkan padda halaman judul.
(2)   Judul utama karangan dicantumkan pada bagian atas dengan huruf-huruf capital. Seandainya judul itu diperkirakan akan terlalu panjang, maka sebaiknya dipecah menjadi dua kaimat:
(a)    Induk judul yang menjelaskan pokok utama karangan.
(b)   Anak judul yang menjelaskan induk judul.
(3)   Di bawah judul perlu dicantumkan sebuah kalimat predikat yang menyatakan tujuan formil akademis. Misalnya: Tesis. Setelah perkataan itu, kemudian menyusul sebuah kalimat yang diletakkan di bawahnya. Misalnya: Diajukan untuk  Memperlengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Peendidikan Management.
(4)   Di bawah kalimat yag tercantum pada (3) ditulis nama pengarang
(5)   Nomor buku induk pengarang.
(6)    Nama fakultas, atau departemen.
(7)   Nama universitas, institusi atau akademi.
(8)   Nama tempat lembaga pendidikan itu berada.
(9)   Tahun
Pada umumnya setiap universitas atau institute atau akademi telah menetapkan bentuk judul karangan. Dan pada lazimnya mereka mengikuti bentuk yang telah tercantum diatas.





BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
1.      Karya tulis ilmiah adalah hasil rangkaian gagasan yang merupakan hasil pemikiran yang didasarkan pada fakta, peristiwa, dan gejala yang disampaikan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
2.    Menulis karya ilmiah melibatkan tiga unsur penting antara lain bahan bacaan, pola berfikir dan penguasaan bahasa tulis.
3.    Asas-asas dalam penulisan karanga ilmiah yaitu Kejelasan (clarity) karangan    ilmiah arus konkrit dan jelas dari segi bahasanya, Ketepatan (Accuracy),  hasil   penelitian ilmiah dan cara penyajiannya harus tepat dan akurat dan Kerigkasan   (brevity),  karya ilmiah dibangun dari ide dengan bahasa yang hemat dan    sederhana.
4.    Judul karya Ilmiah hendaklah singkat dan spesifik, tetapi cukup jelas untuk member gambaran mengenai keseluruhan isi naskah yang ditulis.
4. tema karangan yang baik bagi penulis adalah sebagai berikut : sesuai dengan     bidang keahlian penulis, sesuai dengan bidang studi yang didalami penulis,      sesuai dengan pengalaman penulis: penelitian, pekerjaan, keterlibatan; sesuai      dengan bidang kerja atau profesi penulis; sesuai dengan kompetensi penulis; sesuai dengan minat penulis.
4. Syarat-syarat judul karangan  ilmiah yaitu tepat, ekonomis, langsung, jelas, sederhana, baru, logis, utuh dan gramatika.

3.2  Saran
1. Pemilihan tema untuk tulisan, yang dapat dilakukan dengan cara merumuskan tujuan dengan jelas dan spesifik serta menentukan dan menelusuri topik tulisan agar lebih terfokus.
2. Judul sebaiknya sebaiknya dirumuskan setelah penelitian berakhir, karena judul juga secara tidak lanngsung merupakan kesimpulan dari penelitian yang kita lakukan. Jika kita menentukan judul dari awal penelitian, maka secara tidak langsung kita menggiring penelitian kita untuk melakukan pembenaran terhadap judul itu. Yang harus dirumuskan dari awal penelitian adalah tema.







DAFTAR PUSTAKA

El.Nasin.2011. Teknik Menulis Laporan penelitian Karya Ilmiah.(Online) http://www.tedcbandung.com/tedc2011/pdf/mjld0208.pdf, diakses 13 Nopember 2011.
Hujair.2011.Rancangan Penyusunan Desain Penelitian.(Online) http://sanaky.staff.uii.ac.id/2011/07/02/rancangan-penyusunan-desain-penelitian/, diakses 13 Nopember 2011.
Idrus.Djaali.Asfah.1996.Pedoman Praktis Penelitian & Penulisan Karya Tulis Ilmiah.Ikip Ujung Pandang
Kunjana.Hum.2010. Bahasa Indonesia Perguruan Tinggi.Jakarta:Erlangga.
Syadit.2011.Penyusunan Karya Ilmiah.(Online) http://syayidss. wordpress. com/ 2011/05/12/penyusunan-karya-ilmiah/, diakses 14 Nopember 2011.
Zaenal.1988.Penulisan Karangan Ilmiah dengan Bahasa Indonesia yang Benar.Jakarta:PT.Mediyatama Sarana Perkasa.



  

0 komentar:

Poskan Komentar